GBP/USD Menguat Didongkrak Stimulus Fiskal Inggris

Pasangan mata uang GBP/USD melaju ke rekor tertinggi dalam lebih dari dua pekan terakhir, seusai peluncuran stimulus fiskal tambahan oleh pemerintah Inggris. Sterling menguat hingga kisaran 1.2636 versus Dolar AS, serta mendaki ke atas 135.50-an terhadap Yen Jepang. Pelaku pasar menyambut hangat beragam kebijakan baru Inggris, walaupun tak menganggapnya cukup tangguh untuk menopang nilai tukar GBP dalam jangka panjang.meroket kemarin berkat luasnya ruang lingkup stimulus terbaru dari pemerintah Inggris. Dalam pengumumannya, Menteri Keuangan Inggris, Rishi Sunak, memaparkan beragam insentif baru perusahaan-perusahaan yang bersedia mempekerjakan kembali karyawan yang telah dirumahkan serta merekrut pekerja muda. Ia juga memangkas pajak dan memberikan voucher untuk mendongkrak minat masyarakat kembali ke restoran-restoran.

“Menteri sangat tepat dalam memprioritaskan pekerjaan di pernyatana musim panasnya. Sangat penting untuk menekan kembali kurva pengangguran yang akan menghantam negeri kita. Pengangguran merugikan orang-orang, sangat memukul orang-orang muda dan ekonomi lemah,” ungkap Carolyn Fairbairn dari CBI, “Mencegah lebih baik daripada mengobati. Banyak perusahaan menghadapi gejolak maksimum saat ini. Bonus akan membantu perusahaan-perusahaan mempertahankan pekerjaan (yang sudah ada).”

Kallum Pickering dari Berenberg Bank juga menilai positif rangkaian stimulus fiskal yang disampaikan Sunak. Katanya, “Meskipun ukuran total dari kebijakan baru lebih rendah daripada langkah-langkah masif yang diumumkan pada puncak krisis bulan Maret, secara keseluruhan, semuanya akan membawa dampak besar dan mendukung belanja swasta yang lebih besar dengan implikasi signifikan bagi sektor-sektor yang terpukul paling parah (oleh pandemi COVID-19) seperti konstruksi, perumahan, dan hospitality.”

Terlepas dari itu, sebagian analis lain menilai reli GBP/USD lebih dipengaruhi masalah negosiasi perdagangan pasca-brexit antara Inggris dan Uni Eropa yang belum menemukan titik terang hingga saat ini. Pernyataan terakhir PM Inggris Boris Johnson tentang komitmennya untuk mencapai kesepakatan lebih dini, tidak dianggap serius oleh mayoritas pakar dan pelaku pasar. Pasalnya, Johnson juga lah yang berikrar untuk tidak memperpanjang masa transisi brexit dan meningkatkan ancaman “No-Deal Brexit” bagi masa depan ekonomi Inggris.

 

analysis3rdparty
error: Content is protected !!