Gedung Putih Mempertimbangkan Sanksi Bagi Kurs USD/HKD

Bloomberg kemarin melaporkan bahwa beberapa penasihat top Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan langkah-langkah untuk meruntuhkan pegging Dolar Hong Kong terhadap Dolar AS. Langkah itu direncanakan sebagai bagian dari sanksi untuk membalas tindakan China memberlakukan legislasi baru guna membungkam kebebasan politik Hong Kong beberapa waktu lalu.

Nilai tukar Dolar Hong Kong telah dipatok pada Dolar AS sejak tahun 1983, sehingga dapat diperdagangkan dalam kisaran terbatas dekat 7.8 per USD. Berkat keunggulan stabilitas nilai tukar ini, arus modal masuk ke bursa Hong Kong secara berkelanjutan dan menjamin harga saham-saham perusahaan Tiongkok. Akan tetapi, stabilitas dapat rusak jika AS membatasi kemampuan bank-bank Hong Kong untuk membeli Dolar AS.

Menurut narasumber yang dikutip Bloomberg, pemerintah AS tengah memprioritaskan upaya untuk “menghukum” bank-bank Hong Kong, khususnya HSBC Holdings Plc. Dalam pernyataannya bulan lalu, Mike Pompeo selaku US Secretary of State menuding Peter Wong, CEO HSBC Asia Pasifik karena ia telah menandatangani petisi yang mendukung Beijing untuk membungkam otonomi Hong Kong.

Terlepas dari apa tujuan Gedung Putih, ide untuk mengusik pegging USD/HKD ini menghadapi kritik keras dari pihak oposisi yang mengkhawatirkan kalau-kalau langkah itu hanya bakal merugikan bank-bank Hong Kong dan AS saja. Ada pula pihak-pihak yang mengatakan bahwa ide ini merupakan opsi terakhir dalam daftar serangkaian tindakan yang akan diambil oleh Gedung Putih. Langkah non-ekonomi seperti pembatalan perjanjian ekstradisi AS-Hong Kong dianggap sebagai opsi yang lebih layak untuk dipertimbangkan, karena tak membawa konsekuensi ekonomi besar.

Sekertaris Keuangan Hong Kong, Paul Chan, sebelumnya pernah mengatakan bahwa bank sentral China dapat menyediakan Dolar AS jika Amerika Serikat memberlakukan sanksi terhadap wilayahnya. Eddie Yue, kepala eksekutif otoritas moneter Hong Kong HKMA, juga mengklaim langkah AS menolak akses kliring bagi Hong Kong merupakan skenario yang akan “mengirim gelombang kejut ke pasar keuangan global, termasuk AS.”

Di sisi lain, Gedung Putih terus meninjau lebih banyak upaya untuk meningkatkan konflik dengan China. Pompeo baru-baru ini mengakui pihaknya sedang mengevaluasi kemungkinan memblokir akses Tiktok dan media sosial asal Tiongkok lain di negeri Paman Sam. Ia juga mengakui bahwa AS berupaya mencegah penggunaan teknologi Huawei dan ZTE di berbagai negara.

2928416829
error: Content is protected !!